🌬️ Syair Dhammapada Tentang Kebahagiaan
7Tafsir Mimpi Burung Kenari Peliharaan Mati Menurut Islam 14 Jan 2021 — Mungkin Anda pernah mengalami mimpi seputar burung? Secara umum hewan yang memiliki kemampuan terbang ini menandakan keberuntungan atau Buku mimpi burung kenari - Syair Jitu 5 Des 2021 — Mimpi Burung 1001 Tafsiran Mimpi Tentang Burung Mimpi menangkap burung perkutut bagi yang sudah menikah Arti Mimpi Dapat Burung dari
b s. Dhammapada ( bahasa Pali) atau Dharmapada ( bahasa Sanskerta) merupakan salah satu kitab suci Agama Buddha dari bagian Khuddaka Nikāya, yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Pitaka. Dhammapada terdiri dari 26 vagga (bab) atau 423 bait .
Sdri seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya
SuttaPiṭaka, berisi kumpulan syair-syair pendek. Kitab Dhammapada yang sangat populer, terdiri dari 423 syair dan dikelompokkan dalam 26 Bab. Dikatakan bahwa Buddha Yang Mahamulia membabarkan Dhamma dalam bentuk syair ini dalam 305 kesempatan. Dhammapada artinya jalan atau petunjuk Dhamma, Aṭṭhakatha artinya penjelasan.
.
Kebahagiaan Merupakan Tujuan Semua Makhluk Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati So modati so pamodati disvÄ kammavisuddhimattano “Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira, pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersihâ€Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16 DOWNLOAD AUDIO Semua makhluk mendambakan, menginginkan, mengidam-idamkan kebahagiaan terutama manusia. Manusia sangat mendambakan kebahagiaan itu sendiri, tetapi perlu diketahui setiap manusia mempunyai cara dan tujuan yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Ada beberapa manusia mencari kebahagiaan menggunakan cara yang benar dan juga sebagian mencari kebahagiaan menggunakan cara yang kurang tepat. Hal pertama yang harus dilakukan, ketika seseorang menginginkan kebahagiaan dengan cara menghindari perbuatan buruk, pernyataan ini dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Dhammapada 183, yaitu Sabbap?passa akara?a? artinya “tidak melakukan segala bentuk kejahatan”. Dengan upaya untuk tidak melakukan segala bentuk perbuatan buruk maka secara otomatis terkondisi untuk melakukan perbuatan yang baik, karena hanya perbuatan baik yang mampu menjadi pengondisi buah tidak melakukan kejahatan dijelasakan dalam A?guttara Nik?ya II,15 “tinggalkan kejahatan, O para bhikkhu. Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya manusia tidak dapat meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan, tinggalkanlah kejahatan”. Kejahatan yang dimaksud di sini adalah kejahatan melalui tiga pintu perbuatan yaitu jasmani, ucapan, dan pikiran, karena jika ketiga hal ini dikembangkan, maka penderitaan selalu mengikuti kemanapun kita pergi seperti halnya syair di dalam kitab suci Dhammapada Yamaka-Vagga syair pertama dikatakan “penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya”. Makna dari kutipan ini ialah penderitaan dianalogikan roda pedati mengikuti langkah-langkah kaki lembu yang menariknya karena lembu yang menariknya menderita seperti halnya perbuatan buruk akan mengondisikan buah penderitaan bagi si pelaku Sutta dalam Majjhima Nik?ya menyatakan jika kamma pembunuhan secara langsung menentukan kelahiran kembali, maka hal itu akan menghasilkan kelahiran kembali dalam salah satu alam sengsara. Tetapi jika kamma baik mengantarkan menuju kelahiran kembali di alam manusia dan karena kelahiran kembali sebagai manusia selalu diakibatkan oleh kamma baik, kamma pembunuhan akan bekerja dengan cara yang berlawanan dengan kamma penghasil kelahiran kembali dengan menyebabkan berbagai kemalangan yang bahkan berujung pada kematian prematur. Prinsip yang sama berlaku pada kasus perbuatan buruk yang lain, di mana jika kamma buruk menjadi matang dalam kehidupan sebagai manusia dalam tiap-tiap kasus kamma buruk melawan kamma baik yang bertanggung jawab atas kelahiran kembali sebagai manusia dengan menimbulkan jenis kemalangan tertentu sesuai kualitas yang lebih dominan. Untuk memperoleh kebahagiaan setiap makhluk terutama manusia harus berusaha setiap saat untuk mengembangkan perilaku baik di setiap kehidupannya, karena hanya dengan menghindari keburukanlah kebahagiaan dapat diperoleh. Selain menghindari segala bentuk kejahatan untuk memperoleh kebahagiaan, tentunya seseorang berusaha mengembangkan kebajikan seperti halnya yang dituangkan dalam syair Dhammapada 183 yaitu, Kusalassupasampada yang mempunyai arti “mengembangkan kebajikan” selain itu dalam A?guttara Nik?ya II,I,5 menyatakan bahwa “Kembangkanlah kebaikan, O para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, Aku tidak menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan kembangkanlah kebaikan”. Dari pernyataan ini dapat dilihat bahwa untuk memperoleh kebahagiaan tidak ada cara lain selain mengembangkan kebaikan. Dhammapada Yamaka-Vagga syair ke dua menyatakan “kebahagiaan akan mengikuti bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya”. Mengenai kebahagiaan dapat disimak cerita tentang Gopika yang kemudian terlahir sebagai salah satu putra Dewa Sakka yang bernama Gopaka yang ada di dalam Sakkapañha Sutta D?gha Nik?ya, dalam cerita ini perbuatan yang dikembangkan adalah perbuatan baik yaitu dengan tekun melatih moralitas s?la dan selalu memberi d?na dengan penuh keyakinan. Untuk memperoleh kebahagiaan dua hal ini harus dipenuhi yaitu, tidak melakukan segala bentuk kejahatan dan selalu mengembangkan segala kebaikan, maka kebahagiaan akan selalu mengikuti dan menyertai di setiap saat. A?guttara Nik?ya III,150 menjelaskan “Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka”. Selain itu, hendaknya seseorang memperhatikan dua jenis kebahagiaan yang harus dikejar dan yang harus dihindari yaitu, dalam mengejar kebahagiaan jika faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka kebahagiaan demikian harus dihindari. Dan dalam mengejar kebahagiaan faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka kebahagiaan demikian harus dikejar. Serta Kebahagiaan yang disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran dan yang tidak disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran, yang ke dua adalah lebih luhur. Dua jenis kebahagiaan yang harus dihindari dan harus dikejar juga berlaku pada pikiran, ucapan, dan badan jasmani. Semisalnya perbuatan jasmani Ketika melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka perbuatan jasmani demikian harus dihindari. Ketika dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka perbuatan jasmani demikian harus memperoleh kebahagiaan, tentunya tergantung diri sendiri karena diri sendirilah sebagai tuan rumah. Analoginya, jika ada tamu maka yang menentukan tamu itu dapat masuk ke rumah adalah tuan rumah. Jika tuan rumah tidak menghendaki tamu itu untuk masuk, maka sampai kapanpun tamu itu tidak akan pernah masuk. Tetapi jika tamu itu dikehendaki tuan rumah untuk masuk, maka tamu itu akan dapat masuk. Demikian juga halnya dengan kebahagiaan, jika kebahagiaan itu diupayakan, maka kebahagiaan itu akan didapatkan. Tetapi jika kebahagiaan itu tidak diupayakan, maka sampai kapan-pun orang tersebut tidak akan memperoleh kebahagiaan karena kebahagiaan tidak datang secara gratis, melainkan datang dengan tindakan nyata, yaitu dengan mengembangkan kebajikan. Jika ada kebahagiaan yang lebih besar, mengapa tidak mencoba untuk mengorbankan kebahagiaan yang kecil. Cira? Ti??antu Saddhammo Semoga Dhamma sejati dapat bertahan lama Referensi?Vijanao, Kitab Suci Dhammapada. Singkawang selatan Bahussuta Society.?Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha D?gha Nik?ya. Tanpa kota Dhammacitta.?Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nik?ya. Jakarta Barat Dhammacitta Press.?Ñanamoli dan Bodhi. 2003. Petikan A?guttara Nik?ya. Klaten Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Dhammapada bahasa Pali atau Dharmapada bahasa Sanskerta merupakan salah satu kitab suci Agama Buddha dari bagian Khuddaka Nikāya, yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Pitaka. Dhammapada terdiri dari 26 vagga bab atau 423 bait. Bab 1 YAMAKA VAGGA 2 APPAMADA VAGGA 3 CITTA VAGGA 4 PUPHA VAGGA 5 BALA VAGGA 6 PANDITA VAGGA 7 ARAHANTA VAGGA 8 SAHASSA VAGGA 9 PAPA VAGGA 10 DANDA VAGGA 11 JARA VAGGA 12 ATTA VAGGA 13 LOKA VAGGA 14 BUDDHA VAGGA 15 SUKHA VAGGA 16 PIYA VAGGA 17 KODHA VAGGA 18 MALA VAGGA 19 DHAMMATTHA VAGGA 20 MAGGA VAGGA 21 PAKINNAKA VAGGA 22 NIRAYA VAGGA 23 NAGA VAGGA 24 TANHA VAGGA 25 BHIKKHU VAGGA 26 BRAHMANA VAGGA YAMAKA VAGGA Bab pertama ini berisikan Syair-syair Kembar, terdiri atas dua puluh ayat sebagai berikut. Segala perbuatan buruk didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci, penderitaan pun akan mengikuti, seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya. 1 Segala perbuatan baik didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila sesseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan pun akan mengikuti, seperti bayang-banyang tak pernah meninggalkan dirinya. 2 “Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkanku, ia merampas milikku,” – kebencian dalam diri mereka yang diracuni pikiran-pikiran seperti itu, tak akan pernah berakhir. 3 “Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkankanku, ia merampas milikku,” – kebencian dalam diri mereka yang telah bebas dari pikiran-pikiran seperti itu, akan segera berakhir. 4 Kebencian tak dapat dipadamkan dengan kebencian. Hanya sikap tidak membenci yang dapat mengakhirinya. Inilah hukum yang abadi. 5 Banyak orang tidak menyadari, bahwa dalam permusuhan mereka akan binasa. Bagi yang telah sadar, segala permusuhan pun segera diakhiri. 6 Mara menjerat orang yang hidupnya hanya mencari kesenangan, indra-indrianya tak terkendali, makan berlebihan, bermalas-malas, dan lemah hati, seperti angin yang menumbangkan pohon yang lapuk. 7 Mara tak berdaya menjerat orang yang pikirannya tidak terikat oleh kesenangan-kesenangan, indria-indrianya terkuasai, makannya sederhana, penuh keyakinan, dan tekun merenungkan “ketidaksucian”, seperti angin tak mampu menggoyahkan sebuah gunung batu. 8 Orang yang belum terbebas dari noda, yang tak mampu mengendalikan diri, dan tidak mengerti kebenaran, tidaklah layak mengenakan jubah kuning. 9 Sesungguhnya ia yang telah membuang segala noda, berkelakuan baik, diberkahi pengendalian diri dan kebenaran, yang layak mengenakan jubah kuning. 10 Mereka yang membayangkan ketidakbenaran sebagai Kebenaran, dan menganggap Kebenaran sebagai ketidakbenaran,-mendasarkan dirinya pada pikiran keliru dan tak pernah dapat melihat Kesunyataan. 11 Tapi mereka yang mengetahui Kebenaran sebagai Kebenaran, dan ketidakbenaran sebagai ketidakbenaran,-mendasarkan dirinya pada pikiran benar sehingga dapat melihat Kesunyataan. 12 Seperti hujan menembus rumah beratap tipis, begitulah nafsu dengan mudah merasuk ke dalam pikiran yang tidak terlatih. 13 Seperti hujan tidak dapat menembus rumah beratap kuat, begitulah nafsu tak kuasa merasuk ke dalam pikiran yang terlatih. 14 Di sini ia menderita, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kejahatan menderita di kedua alam, dan merana melihat hasil perbuatan buruknya. 15 Di sini ia berbahagia, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kebajikan berbahagia di kedua alam, terlebih lagi setelah melihat hasil perbuatan baiknya. 16 Di sini ia bersedih, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kejahatanbersedih hati di kedua alam. Ia bersedih mengingat kejahatan yang telah dilakukannya, terlebih lagi setelah jatuh ke dalam penderitaan. 17 Di sini ia bergembira, begitu pula di alam berikutnya. Pembuat kebajikan bergembira di kedua alam. Ia bergembira mengingat kebajikan yang telah dilakukannya, terlebih lagi setelah mengecap kebahagiaan. 18 Orang yang meskipun banyak membaca kitab suci, tapi tidak berbuat sesuai Ajaran, seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain, tidak akan beroleh manfaat Kehidupan suci. 19 Orang yang meskipun sedikit membaca kitab suci, tapi berbuat sesuai Ajaran, menyingkirkan nafsu, kebencian, dan kebodohan, memiliki Pengetahuan benar, batin yang bebas, dan tidak terikat pada kehidupan sekarang maupun yang akan datang; akan beroleh manfaat Kehidupan suci. 20 APPAMADA VAGGA Berisikan sabda-sabda Buddha Gotama tentang Kesadaran. CITTA VAGGA Bab ini berisikan kotbah Buddha tentang Pikiran. PUPHA VAGGA Pupha Vagga membahas tentang Bunga-bunga. BALA VAGGA Bab tersebut berisi syair Orang-orang Dungu. PANDITA VAGGA Bab keenam ini berisi tentang Orang Bijaksana. ARAHANTA VAGGA Bab Arahanta Vagga berisi bait Arahat. SAHASSA VAGGA Sahassa Vagga juga dikenal membahas topik Beribu-ribu. PAPA VAGGA Papa Vagga memaparkan tentang Kejahatan. DANDA VAGGA Bab kesepuluh ini berisi bait Hukuman. JARA VAGGA Topik Usia Tua dibahas dalam bab tersebut. ATTA VAGGA Bait mengenai Diri Sendiri tertulis dalam bab ini. LOKA VAGGA Loka Vagga membahas tentang Dunia. BUDDHA VAGGA Bait-bait tentang Buddha terdapat dalam bab keenam-belas ini. SUKHA VAGGA Ayat-ayat Kebahagiaan terangkum dalam Sukha Vagga. PIYA VAGGA Piya Vagga berisikan ayat-ayat Cinta Kasih. KODHA VAGGA Vagga ini membahas tentang Kemarahan. MALA VAGGA Mala Vagga berisi ayat Noda-noda. DHAMMATTHA VAGGA Topik mengenai Orang Adil terdapat dalam bab ini. MAGGA VAGGA Ayat Sang Jalan tertulis dalam Magga Vagga. PAKINNAKA VAGGA Pakinnaka Vagga merangkum ayat Bunga Rampai. NIRAYA VAGGA Pembahasan Neraka terdapat dalam vagga tersebut. NAGA VAGGA Naga Vagga berisi tentang Syair-syair Gajah. TANHA VAGGA Nafsu Keinginan diulas dalam Tanha Vagga. BHIKKHU VAGGA Vagga kedua-puluh-lima ini berisi tentang Bhkikkhu atau Pertapa. BRAHMANA VAGGA Bab terakhir Dhammapada ini mengulas topik Brahmana. Referensi Istilah-Istilah Bab-1, Syair-syair Kembar, yamaka vagga] Bab-2, Kewaspadaan, [appamada vagga] Bab-3, Pikiran, citta vagga] Bab-4, Bunga-bunga, [puppha vagga] Bab-5, Orang Bodoh, [bala vagga] Bab-6, Orang Bijaksana, [pandita vagga] Bab-7, Arahat, [arahanta vagga] Bab-8, Ribuan, [sahassa vagga] Bab-9, Kejahatan, [papa vagga] Bab-10, Hukuman, [danda vagga] Bab-11, Usia Tua, [jara vagga] Bab-12, Diri Sendiri, [atta vagga] Bab-13, Dunia, [loka vagga] Bab-14, Buddha, [buddha vagga] Bab-15, Kebahagiaan, [sukha vagga] Bab-16, Kecintaan, [piya vagga] Bab-17, Kemarahan, [kodha vagga] Bab-18, Noda-noda, [mala vagga] Bab-19, Orang Adil, [dhammattha vagga] Bab-20, Jalan, [magga vagga] Bab-21, Bunga Rampai, [pakinnaka vagga] Bab-22, Neraka, [niraya vagga] Bab-23, Gajah, [naga vagga] Bab-24, Nafsu Keinginan, [tanha vagga] Bab-25, Bikkhu, [bhikkhu vagga] Bab-26, Brahmana, brahmana vagga]
syair dhammapada tentang kebahagiaan